Mencapai Pertumbuhan Bisnis melalui Metrik dan Key Performance Indicator

Berdasarkan riset Profesor Thomas R. Eisenmann dari Harvard Business School menyimpulkan bahwa 90% bisnis/startup berakhir gagal atau hanya ada 10% saja yang dapat survive. Menurut analisis CB Insights terhadap 101 bisnis/startup faktor penyebab tersebut adalah: Tidak dibutuhkan pasar (42%), Kehabisan kas (29%), Tidak memiliki tim yang tepat (23%), Tidak dapat bersaing dengan kompetitor (19%), Masalah harga dan biaya (18%), Produk yang tidak ramah terhadap pengguna (17%), Produk tanpa model bisnis (17%), Pemasaran yang buruk (14%), Penolakan dari pelanggan (14%), Kekeliruan/kesalahan produk (13%), Kehilangan fokus (13%), Disharmoni antara tim/investor (13%), Pivot yang buruk (10%), Kekurangan passion (9%), Kegagalan dalam melakukan ekspansi geografis (9%), Tidak ada pembiayaan/ketertarikan investor (8%), Tantangan pada aspek hukum (8%), Tidak menggunakan jejaring (8%), Burn Out (8%), dan Gagal dalam melakukan pivot (7%).

Menurut pandangan Penulis hal tersebut terjadi dikarenakan kurangnya riset dalam mengumpulkan dan mengelola informasi yang relevan menjadi informasi yang berharga (data). Pelaku usaha khususnya pemula usaha cenderung mengabaikan data dan lebih memilih untuk mengandalkan rasa (intuisi/insting). Rasa (intuisi/insting) memang diperlukan namun rasa tersebut harus dibangun atas dasar data agar keputusan bisnis yang diambil tidak keliru. Salah satu data penting yang perlu diperhatikan adalah mengenai Metrik dan Key Perormance Indicator (KPI) untuk mewujudkan pertumbuhan bisnis.

Metrik secara sederhana dapat diartikan sebagai alat ukur untuk aktivitas bisnis. Setidaknya terdapat 4 (empat) metrik selain metrik utama finansial yang wajib diperhatikan oleh pelaku usaha yang penulis rangkum dari berbagai sumber sebagai berikut:

1. Metrik Biaya Akuisisi Pelanggan/Cost of Customer Acquisition. Metrik ini mengukur seberapa besar biaya yang anda keluarkan dalam setiap memperoleh pengguna, dapat diformulasikan sebagai berikut:

Biaya Mendapatkan Pelanggan = Total Biaya Pemasaran / Jumlah Pelanggan Baru

2. Metrik Churn Rate. Metrik ini mengukur seberapa cepat pelanggan anda pergi atau menjadi tidak aktif, churn rate yang tinggi mengindikasikan bahwa terdapat yang salah pada pengguna atau produk anda. Itu juga berarti anda harus menghabiskan banyak uang untuk mengejar pelanggan baru untuk menggantikan pelanggan yang pergi, jadi penting untuk mempertahankan churn rate tetap rendah.

Churn Rate = Jumlah Pelanggan yang Pergi / Jumlah Total Pelanggan

3. Metrik Nilai Seumur Hidup Seorang Pelanggan/Lifetime Value of a Customer. Metrik ini memperkirakan seberapa berharga tiap pelanggan yang anda miliki. Metrik ini krusial jika anda ingin tahu berapa banyak yang bisa anda investasikan dalam mendapatkan dan mempertahankan tiap pelanggan, dan terus mendapatkan laba. Jelasnya, Nilai Seumur Hidup Seorang Pelanggan harus jauh lebih tinggi daripada biaya akuisisinya. Anda harus memastikan bahwa anda mendapat cukup nilai dari pelanggan untuk membenarkan biaya akuisisi, termasuk juga mencakup semua kebutuhan lain dan menyisakan laba untuk anda.

Nilai Seumur Hidup = Rata-Rata Total Pesanan x Rata-Rata Jumlah Pembelian Tiap Pelanggan Per Tahun / Churn Rate

4. Metrik Tingkat Kepuasan Pelanggan. Metrik ini penting untuk melihat bagaimana kepuasan pelanggan terhadap produk anda sehingga anda dapat mengevaluasi produk anda. Ada banyak cara untuk mengukur kepuasan pelanggan salah satu diantaranya adalah dengan melakukan rating disertai review. Rating akan merepresentasikan nilai dalam bentuk kuantitatif misal rentang 1-3 dan Review akan merepresentasikan nilai dalam bentuk kualitatif yakni komentar berupa kritik/saran.

Anda dapat menghitung rata-rata rating yang diberikan oleh pelanggan dengan cara Jumlah keseluruhan nilai rating / Jumlah pelanggan yang memberikan rating

Adapun Key Performance Indicator (KPI), merujuk pada definisi yang dirumuskan dalam “Performance Indicator Resource Catalogue” adalah ukuran spesifik tentang kinerja organisasi dalam wilayah bisnisnya. Ukuran tersebut dapat berupa financial dan non-financial yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja strategis organisasi. Sebagai alat ukur kinerja strategis organisasi, Key Performance Indicator (KPI) dapat mengindikasikan kesehatan dan perkembangan organisasi, dan atau keberhasilan kegiatan, program atau penyampaian pelayanan untuk mewujudkan target-target atau sasaran organisasi. Key Performance Indicator (KPI) dapat berbentuk ukuran kuantitatif maupun kualitatif. Namun demikkian, dalam praktek penyusunan Key Performance Indicator (KPI) oleh berbagai organisasi public dan private, sebagaian besar Key Performance Indicator (KPI) berupa ukuran kuantitatif. Hal ini dikarenakan, ukuran kuantitatif relatif lebih mudah digunakan dalam proses penggalian data maupun pada saat pengukuran dan evaluasi.

Contoh KPI sederhana adalah sebagai berikut:

KPI Meaning (What is KPI), Examples & Calculations Tutorial + FREE ...
( https://www.optimizesmart.com/understanding-key-performance-indicators-kpis-just-like-that/ )
( https://image.slidesharecdn.com/template-tableofkpiforhrmanager-110314021716-phpapp01/95/kpi-for-hr-manager-sample-of-kpis-for-hr-9-728.jpg?cb=1300070958 )

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metrik merupakan alatukur dalam aktivitas bisnis yang menjadi variabel dalam menentukan besaran target atau sasaran yang ditetapkan oleh internal perusahaan dalam bentuk Key Performance Indicator (KPI). Nah jika anda sedang atau ingin menyusun atau merancang metrik dan KPI yang tepat bagi usaha/bisnis anda, maka dalam waktu dekat ini anda dapat menggunakan platform Bizlook untuk menemukan profesional yang tepat. Terimakasih 🙂

Referensi:

Andrew Blackman, The 4 Customer Metrics Every Business Should Track, https://business.tutsplus.com/tutorials/the-4-customer-metrics-every-business-should-track–cms-20985

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *